ARTI MUSIBAH: CARA TUHAN MEMPERBAIKI DIRI DAN KEHIDUPAN

Akhir-akhir ini banyak banget kejadian pahit yang menimpa gue.. -cieee curhat ceritanya XD-

Tapi beneran, saking bikin shocknya kejadian-kejadian yang gua alami, gua pun sempet kehilangan semangat dan putus asa dalam menjalani hidup.

Yup, that’s life. Seperti yang gue pernah bilang sebelumnya, hidup itu ga selancar jalan tol bebas hambatan. Selalu ada aja yang bikin kita sedih terkaget-kaget setiap kali kita melangkah. Ga perlu gue jelasin detail kisah gua seperti apa, gua rasa setiap orang juga pasti pernah mengalami masa-masa dimana mereka ditimpa terlalu banyak masalah hingga rasanya susah sekali untuk kembali bangkit. Tapi ya mau gimana lagi itulah hidup. Mau ga mau musti diterima dan dijalani apa adanya dengan lapang dada.

Ketika kita tengah dirundungi banyak masalah, biasanya kita akan dipaksa untuk merenung. Di saat-saat berat seperti sekarang inilah gua pun jadi banyak merenung. Apa yang salah dengan diri gua sehingga gua harus mengalami ini dan itu? Apakah gua banyak dosa ke orang sehingga gua kena karma? Kenapa ini dan itu harus terjadi? Apa penyebabnya? Dan apa akibat atau dampak kejadian buruk tersebut, baik itu terhadap kita, orang terdekat kita, maupun orang lain di sekitar lingkungan kita? Apakah ada cara untuk memperbaiki atau mengembalikan keadaan yang berantakan kembali seperti sediakala? Apa opsi yang tersedia bagi kita untuk mengatasi masalah tersebut? Dan seterusnya… dan seterusnya…

Hingga akhirnya gua pun berusaha mencari penyelesaian untuk segera mengakhiri permasalahan gue. Dengan mendapat musibah dan merenung, gue jadi mendapat pencerahan baik itu lewat tuntunan agama, atau menyimak dan berbagi pengalaman dengan orang yang mengalami kejadian hampir sama dengan gue. Dari proses berat ini kita bisa jadi belajar hal baru. Dari proses berat ini kita dijadikan oleh Tuhan sebagai pribadi yang lebih bijaksana dan matang. Akhirnya gua pun mengerti bahwa Tuhan menciptakan masalah untuk kita bukan untuk kita tentang dan membuat kita marah sama Tuhan. Tuhan cuma mau hamba yang dia sayangi bisa menjadi manusia yang lebih baik dari hari ke hari dengan memberi cobaan untuk kita. Kalo dipikir-pikir lagi, memang bener sih. Kita jadi lebih bijak dalam menyikapi masalah yang sama di masa-masa mendatang karena kita ga mau mengulangi kesalahan yang sama, ga mau merasakan akibat atau dampak buruk yang pernah kita alami di masa lalu.

Akhirnya gua pun mengerti bahwa Tuhan menciptakan masalah untuk kita bukan untuk kita tentang dan membuat kita marah sama Tuhan. Tuhan cuma mau hamba yang dia sayangi bisa menjadi manusia yang lebih baik dari hari ke hari dengan memberi cobaan untuk kita.

Dengan adanya masalah, kita dituntut untuk berusaha menjadi manusia yang lebih berakal budi dan bertingkah laku baik, kita dituntut untuk lebih berhati-hati dalam menyikapi segala sesuatu. Dengan adanya masalah, kita jadi lebih dekat sama Tuhan, dimana mungkin sebelum kena masalah kita lupa akan adanya peranan besar Tuhan dalam hidup kita. Seakan-akan kita hidup ini tidak bergantung pada Tuhan. Setelah kena masalah / disentil oleh Tuhan, baru deh kita sadar bahwa kita sebagai manusia ini diciptakan lemah tak berdaya. Baru deh kita sadar kalo kita tanpa Tuhan bukan siapa-siapa. Punya jabatan tinggi? Punya kekayaan melimpah? Dilahirkan cantik / tampan? Punya otak sejenius Einstein? Itu semua tidak akan bisa kamu peroleh jika bukan karena kasih sayang dan anugerah dari Tuhan. So.. jangan pernah mikir itu semua milik kamu selamanya. Itu semua cuma titipan yang BISA DIAMBIL KAPAN SAJA SEWAKTU-WAKTU OLEH TUHAN, karena memang Dia pencipta dan pemilik segala sesuatu di alam semesta ini. Makanya selagi kamu dititipkan oleh Tuhan semua anugerah di atas, jangan pernah sombong dan menyalahgunakannya di jalan yang ga disukai Tuhan. Pas itu semua diambil kita cuma bisa termehek-mehek minta belas kasih Tuhan, atau mungkin ada juga yang kurang ajar dan malah marah-marah bilang Tuhan ga adil sama kita. Hmmmh… jangan sampai deh kita manusia yang sudah diciptakan sempurna dengan akal pikiran, tidak mau menggunakan akal tersebut untuk instrospeksi diri.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah kami kembali)”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. AL-BAQARAH: 155-157)

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (AT TAGHABUN: 11)

Jadi kalau kena musibah, resep dari gue sebaiknya menjauh atau mengasingkan diri dari dunia luar, terus banyak-banyak deh merenung dan pelajarin lagi tuntunan agama masing-masing. Banyak-banyak doa, dekatkan diri kepada Tuhan sampai akhirnya pikiran kembali sehat seperti sediakala. Kenapa musti mengasingkan diri dari dunia luar dan mendekatkan diri HANYA PADA TUHAN? THIS IS THE REASON: karena dunia luar TIDAK SELALU memberi pengaruh yang baik kepada diri kita.

Pada saat mengalami musibah, kita pasti mengalami masa-masa berkabung, dimana jiwa kita sangat rapuh. Pada saat-saat ini tentunya kita semua ingin semua orang terkasih di sekitar kita bisa mengerti dan mengasihi kita yang sedang tenggelam dalam duka dan luka.

BUT, THE WORLD DOESN’T ALWAYS REVOLVES AROUND YOU. NOBODY’S PERFECT. Kita tidak bisa menuntut mereka untuk bisa mengerti keadaan kita sepenuhnya dan mencurahkan kasih sayang dan perhatian mereka terkuras sepenuhnya ke kita. Mereka sama-sama manusia seperti kita yang juga punya masalah masing-masing yang belum selesai. Jadi mereka belum tentu bisa hadir untuk selalu memenuhi tuntutan kamu akan curahan kasih sayang. Disinilah kita dituntut untuk mendekatkan diri pada Tuhan ketimbang pada mereka, karena selain untuk menghindari perasaan kita semakin hancur karena merasa tak ada yang perhatian lagi sama kita, juga untuk menghindari terjadinya konflik antara kamu dan orang terkasih yang diakibatkan kamu sedang tidak bisa berpikir jernih dan kecenderungan kamu untuk menyalahkan keadaan dan lingkungan sekitar. Ini alasannya kenapa kamu harus mengasingkan dari dunia luar. Ini penting demi menghindari kesalahpahaman dan pecahnya hubungan baik, entah karena keegoisan kamu yang emang lagi kambuh karena kamu sedang tak bisa mikir, atau entah karena ucapan dan perilaku mereka yang ternyata tak sesuai dengan harapan kamu, dimana ternyata nasihat atau perlakuan mereka yang sejatinya ditujukan untuk memperbaiki keadaan kamu, malah membuat kamu merasa semakin terpojok dan tersudut atau merasa semakin depresi.

Dengan mengasingkan diri, kamu bisa jadi dirimu sendiri tanpa terpengaruh ucapan atau dorongan orang lain. Kamu bisa menyembuhkan luka kamu sendiri perlahan-lahan tanpa harus terlibat konflik tambahan dengan orang lain disaat kondisi kamu sedang tidak stabil. Dengan mengasingkan diri kamu bisa mencari pemecahan solusi masalah yang terbaik dan paling cocok buat kamu. Dan yang paling penting, di saat mengasingkan diri kamu jadi bisa lebih mengenal Tuhan dan merasakan semua kasih sayangNya kepada kamu. Dan ketika kamu mulai sembuh dari luka, akhirnya kamu bisa berinteraksi kembali dengan orang-orang terdekat kamu dengan sosok baru kamu yang lebih mandiri dan dewasa. Win win solution! Everybody’s happy.

“Dengan mengasingkan diri, kamu bisa jadi dirimu sendiri. Dengan mengasingkan diri kamu bisa mencari pemecahan solusi masalah yang terbaik dan paling cocok buat kamu. Dengan mengasingkan diri kamu bisa lebih mendekatkan diri kamu kepada Tuhan. Proses ini sangat penting untuk menumbuhkan pribadi kamu menjadi lebih mandiri dan dewasa”

Nah, biasanya setelah masa-masa merenung dan mengasingkan diri, kamu jadi lebih bisa memilah dan memilih siapa saja orang yang layak dan tidak layak untuk kamu pertahankan dalam kehidupan kamu. Kamu juga jadi bisa memilih dan memilah karakter atau sifat mana dari diri kamu yang harus dibuang / dihilangkan sekaligus mempertahankan karakter-karakter baikmu yang harus diperkuat / dikokohkan.

Setelah melalui masa-masa ini kamu bisa memperbaiki kualitas hidup kamu dengan memilih untuk bergaul dan menghabiskan waktu berharga kamu hanya dengan orang-orang yang layak dipertahankan tersebut. Untuk mereka yang tidak layak dipertahankan (entah karena mereka berkhianat atau memberi pengaruh buruk padamu), kamu bebas menentukan untuk memutuskan hubungan sama sekali atau tetap menjaga hubungan baik seperlunya saja. YANG JELAS : Kamu perlu memilih dan mengevaluasi segala hal / aspek yang berkaitan dengan diri kamu dan lingkungan sekitar kamu, INI PENTING demi menjaga agar kamu tidak kecebur dua kali dalam permasalahan yang sama di masa-masa mendatang.

Kalo bagi gue sendiri, mereka yang layak untuk dipertahankan dalam kehidupan adalah:
-Orang-orang yang bisa membantu meningkatkan kualitas kehidupan kamu untuk selalu lebih baik dari masa lalu.
-Senantiasa menularkan semangat positif pada kita dan arif dalam menyikapi suatu masalah.
-Mereka yang banyak memberi pengaruh baik pada pengembangan karaktermu.
-Kamu merasa tenang, nyaman dan aman tiap kali bersama mereka, dimana kamu bisa mempercayai mereka. Mereka tidak pernah berbohong pada kita baik itu hal kecil ataupun besar jika memang tidak ada manfaatnya dan tidak akan mengkhianati atau menjerumuskan kita dalam kegagalan atau kesempitan.

“Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara dia dusta, jika berjanji dia ingkar, dan jika dipercaya (diberi amanat) dia berkhianat.” (HR. Bukhari Muslim)

-Mereka selalu ingin yang terbaik untuk kita. Sedih jika melihat kita susah, dan turut bahagia saat kita mendapatkan kesenangan. Bukan sebaliknya!
-Tidak memaksa, menghakimi atau menggurui, mereka senantiasa memberi opsi dan membebaskan kamu untuk memilih yang terbaik untuk kamu sendiri karena mereka percaya dengan segala keputusan kamu.
-Pendengar yang baik, menerima kekurangan dan kelebihan kamu apa adanya.
-Give and Take yang seimbang antara kamu dan dia. Saling pengertian. Tidak ada rasa dituntut atau menuntut dalam membina hubungan baik, karena semua berdasar atas rasa sukarela dan ketulusan.
-Tidak mengenal asas manfaat dimana jika ada perlunya aja dia baru mau berurusan sama kamu. Kalo peribahasanya “Ada uang abang disayang, tak ada uang abang melayang”. Mereka juga tidak menggunakan kekurangan kamu sebagai senjata untuk memanfaatkan atau merugikan kamu. Balik lagi ke asas “hubungan saling percaya, tulus, sukarela” tanpa embel-embel MODUS/MOTIF tersembunyi.
-Tidak menyimpang dari tuntunan agama masing-masing dan tidak menyimpang dari prinsip moral yang gua anut.

Yah, begitulah kira-kira kriteria orang-orang yang menurut gua ideal untuk gua pertahankan dalam kehidupan gua, demi membuat hidup gua jadi lebih baik ke depannya. Tentunya gua pun sadar bahwa gua tidak akan mendapatkan orang-orang seperti itu dalam hidup gua jika gua sendiri berperilaku egois dan tidak mau berusaha menjadi salah satu orang yang juga memiliki kriteria seperti yang telah gua tetapkan, seperti yang tertera pada Al-Qur’an surat An-Nur ayat 26:

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).” (QS an-Nur [24]:26).

Pernyataan lain yang menyatakan pentingnya memilih teman dan orang-orang yang baik untuk dipertahankan dalam lingkungan pergaulan kita, juga terdapat pada Sabda Nabi Muhammad SAW seperti berikut:

Dari Abu Musa Asy-Asy’ari, Dia mengatakan bahwa, Rasulullah saw. Bersabda :
“Sesungguhnya, Perumpamaan Teman yang Baik dan Teman yang Buruk, adalah Seperti Penjual Minyak Wangi dan Tukang Pandai Besi. Seorang Penjual Minyak Wangi akan memberi kamu Minyak, atau kamu Membelinya, atau kamu mendapati Bau yang Harum darinya.
Sedangkan Pandai Besi, maka bisa jadi akan Membakar bajumu dan bisa pula engkau mendapati darinya Bau asap yang Busuk”.
(HR. Muttafaq ‘Alaih).

Nah, kesimpulan dari cerita panjang gua kali ini jadinya apa teman-teman????

“1. Dengan musibah kamu akan dipaksa untuk merenung, introspeksi dan memperbaiki diri”
“2. Dengan musibah kamu akan dipaksa untuk mengingat bahwa kita manusia lemah dan membutuhkan Tuhan dalam hidup kita”
“3. Dengan musibah kita dipaksa untuk jadi lebih bijaksana menyikapi masalah, bijaksana dalam memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang buruk untuk kita”
“4. Dengan musibah kamu bisa menjadi pribadi yang lebih pintar, arif, mandiri dan dewasa, dan tentunya menjadi manusia yang lebih dekat dengan Tuhan”

Akhir kata, semoga tulisan ini bisa bermanfaat dan semoga semua musibah yang kita alami bisa menjadi pelajaran yang berharga bagi kita semua. Amin.

Iklan