Jahat VS Baik

images

perfect

Dalam diri manusia itu, selalu ada dua sisi:

JAHAT

               VS

                       BAIK

Sama kayak gue, berhubung gue bukan malaikat, gue juga punya dua sisi yang selalu berlawanan berlomba muncul ke permukaan. Kita berusaha sekeras mungkin untuk menjadi orang baik, tapi terkadang ada saja dorongan untuk menjadi jahat ketika tidak puas dengan sesuatu. Itulah yang gue sebut dengan kekhilafan seorang manusia.

Cukup sering gue menemukan seseorang yang dulunya sangat baik bisa berubah menjadi orang superjahat, atau bahkan orang yang dulunya sangat jahat berubah menjadi alim setelah bertobat. Membuat gue merasa stereotype jahat atau baik yang kita tempelkan sama orang belum tentu benar 100%.

Yup, kebenaran memang mutlak 100% di tangan Allah, kita cuma bisa menghakimi orang berdasar pemikiran otak idiot kita yang terbatas.

Contoh: Ada seseorang yang dulu sangat menyayangimu, tiba-tiba berubah menjadi seorang yang jahat yang kamu tidak sangka-sangka sebelumnya. Hal ini terjadi setelah kamu melakukan kesalahan besar yang membuat ia benci padamu. Ya, ia berubah 180 derajat karena ia tak sanggup menahan rasa sakit yang kau sebabkan. Hal itu wajar, karena mereka manusia, bukan Tuhan yang bisa memaafkan begitu saja kesalahan besar seseorang yang pernah mereka sayangi sepenuh hati.

Namun apakah itu menjadikan seseorang yang bersalah kepadanya adalah iblis terlaknat? Ga juga, soalnya dia juga manusia bukan Tuhan, tempatnya salah dan lupa, rawan berbuat kekhilafan.

Setelah peristiwa itu, silaturahmi pun terputus, kemudian si korban yang tersakiti hatinya selalu menjelek-jelekkan dan mengejek si pelaku kejahatan yang telah menyakiti hatinya itu di sosial media dan ke seluruh orang yang dia temui sehingga si pelaku menjadi bahan gosip di satu lingkungan tersebut. Jahat ga menurut kalian perbuatan si korban kepada pelaku yang telah menyakitinya? Menurut saya sih jahat. Tapi saya masih bisa mengerti perbuatan si korban hanyalah salah satu kelemahan seorang manusia normal yang cenderung berusaha membalas perbuatan seseorang dengan keburukan setimpal.

Lalu gimana nih kabarnya si pelaku kejahatan? Jangan mengira Tuhan buta dan melepaskan dia begitu saja. Pelaku pun merasakan karma setimpal kok akibat perbuatan buruknya kepada korban. Pelaku pun sudah menyadari secara penuh perbuatannya dan sudah berusaha meminta maaf berkali-kali, bahkan sampai mencoba bunuh diri hanya untuk mendapat maaf. Terus gimana menurut pendapat kalian? Si pelaku ini jahat atau tidak? Pantas dimaafkan ga kalau ia mau berubah? Kalau menurut saya sih harusnya dimaafkan saja, selama ia memang betul-betul berusaha mengubah dirinya menjadi lebih baik. Tapi yah, hak memaafkan jatuh pada masing-masing pribadi sih ya, ga bisa dipaksain.

Tapi di lain sisi… pelaku kejahatan itu pun sebenernya tahu “dosa-dosa” yang pernah dilakukan si “korban”, hanya saja untuk menyebarkannya di depan orang banyak berulang-ulang kali kok rasanya picik sekali. It’s just feels wrong. Terasa salah sepertinya membeberkan dosa orang lain hanya untuk membuat diri kita merasa lebih baik. Si pelaku pun walau merasa marah kepada perbuatan si korban yang dengan enaknya menggosipi dia dari belakang, pelaku juga sadar diri bahwa dia memang telah bersalah dan hanya bisa menerima sanksi sosial tersebut dengan ikhlas. Sambil berusaha memperbaiki diri, belajar menutup telinga dan mulai menjalani lembaran baru dengan optimis ternyata terlihat jauh lebih baik dibanding tenggelam dalam rasa bersalah terus menerus dan menunggu untuk dimaafkan.  Wow, ternyata si pelaku kejahatan pun kini bisa menjadi lebih bijak dalam menyikapi masalah! Setidaknya ia sudah melangkah satu langkah menuju pribadi yang lebih baik dibanding dengan masa lalunya. Lalu gimana dengan si korban yang tadinya merupakan orang yang sangat baik namun kemudian berubah menjadi seseorang yang selalu menghakimi orang lain? Entahlah, mungkin saat itu dia masih tenggelam dalam kesakit-hatiannya dan tidak sadar telah mundur selangkah menjauh dari kriteria “baik” yang disukai Tuhan.

Dari skenario di atas, bisa kita simpulkan bahwa seorang manusia sebaiknya tidak merasa berhak menghakimi atau menjadi juri di depan orang lain, karena pada hakikatnya kita semua ini peserta ujian di dunia ini. Juri yang mutlak menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah itu cuma Tuhan, biar nanti ia yang membalas perbuatan manusia-manusia di dunia ini dengan seadil-adilnya.

Jangan Menghina Masa Lalu Orang

image

Jadi sebagai korban daripada sibuk mikirin kebaikan kita sama orang lain yang ga dibales baik juga atau sibuk mikirin kenapa kita disakitin yang justru kemudian membuat elu jadi sama jahatnya sama si pelaku, lebih baik arahkan emosi ga sehat itu dengan berdoa sama Tuhan untuk melindungi lo dari perbuatan jahat orang di kemudian hari dan memohon pada Tuhan untuk selalu mengingatkan diri supaya tidak membiarkan diri lo menjadi orang jahat yang sama.

Sedangkan buat kamu yang dulu pernah berbuat salah dan sekarang sudah berusaha untuk berubah, jangan putus asa ya. Ga usah pedulikan omongan jelek orang lain yang berusaha menjatuhkan setiap usahamu. Tetap berusaha untuk bersikap santun kepada mereka tapi jangan biarkan omongan mereka membuat kamu down dan merasa semakin bersalah lebih dari kesalahan yang kamu lakukan, bahkan berpikir untuk bunuh diri buat bayar kesalahan kamu? Ga worth it! Mereka ga akan puas bahkan walau melihat dirimu mati! Allah lebih tau apa yang kamu alami dan rasakan. Kamu sudah minta maaf berulang kali, kamu sudah berusaha berubah, kamu sudah pontang-panting menjalani karma balasan dari Allah untuk membayar dosamu, kalau tidak diterima maafmu cukup doakan saja supaya mereka mendapat ganti yang lebih baik yang bisa mengobati kesakitan mereka atas perbuatan salahmu dulu kepada mereka. Insya Allah semua akan mendapatkan kebahagiaan yang sama.

image

Tidak Perlu Menjelaskan Diri Kepada Orang yang Sudah Terlanjur Membenci Dirimu, Karena Pandangannya Tidak Akan Berubah Secuilpun Walau Nyatanya Anda Sudah Berusaha Menjadi Lebih Baik

image

Setidaknya Anda Bisa Menjadi yang Terbaik Untuk Keluarga Anda Sendiri

Semoga Allah mengampuni kita semua kaum yang berdosa, dan tidak bosan mencambuk dan selalu membimbing kita ke jalan yang lurus. Untuk Anda yang merasa sudah suci dan tidak punya dosa sama sekali, Alhamdulillah saya doakan semoga Anda selalu dijaga sama Allah dari perbuatan-perbuatan yang ga disukaiNya… Amiiin!

imageCatatan untuk diri saya sendiri

Untuk mereka yang pernah disakiti sama orang lain, saya menghimbau untuk memaafkan mereka yang menyakitimu dengan ikhlas, apalagi melihat mereka juga sudah menjalani karma ga enak atas perbuatan mereka sendiri. Allah aja ga bosan-bosan memaafkan hambaNya yang berulang kali lupa melakukan dosa kemudian bertaubat. Berhubung semua manusia itu gudangnya salah dan khilaf jangan menganggap kamu lebih baik dari orang lain. Bagaimana jika nanti kamu malah melakukan kesalahan yang sama seperti orang yang ga mau kamu maafkan? Baru deh kamu tau penderitaannya orang itu secara persis sama dan memahami perasaan mereka.

Menasihati Boleh Tapi Jangan Sinis Kepada Yang Diingatkan

Menasihati Boleh, Tapi Jangan Sampai Menghakimi. Siapa Yang Menjamin Anda Tidak Akan Melakukan Dosa Tersebut?

Diriku pribadi sih udah ngerasain sendiri, jadi pihak yang melakukan kesalahan dan menjadi pihak yang disakiti sehingga bisa lebih bijak menyikapi semuanya. Ga ada untungnya juga menyimpan dendam sama orang. Memberi maaf setelah itu move on, tata hidup menjadi lebih baik, berbahagia bersama kehidupan yang baru tanpa mengingat kepahitan masa lalu, bakal jauh lebih bermanfaat daripada menyimpan kebencian sama orang dan terus berusaha mencari cara untuk menjatuhkan orang tersebut. Setelah saya praktekkan sendiri, untuk memaafkan dan berdamai dengan diri saya sebagai pelaku, dan memaafkan mereka yang bersalah sama saya ketika saya menjadi korban, ternyata hidup  berubah menjadi lebih ramah dan terasa jauuuh lebih baik. Jauh lebih bermakna ketimbang saat saya masih berada dalam golongan “kaum sok suci” yang merasa ga bakal pernah melakukan kesalahan dalam hidup.

image

image

Kebaikan Hidup Hanya Diberikan Ketika Kita Sudah Siap Menerimanya. Jadi Introspeksi Diri dan Periksa Apakah Diri Anda Sudah Pantas? jika Belum Perbaiki Segera!

Semoga tulisan gue kali ini bisa bermanfaat buat semua orang yang baca. Siapapun itu di luar sana yang baca tulisan ga penting ini semoga bisa memetik manfaat dan pencerahan walau secuil. Akhir kata bagi yang bersalah dan pernah melakukan kejahatan sama orang lain jangan bosan meminta maaf dan ga perlu membela diri lagi karena lo emang udah jelas salah. Tapi kalau udah minta maaf masih aja di bully, yaudin diemin aja sambil doain semoga semua orang bisa dapet yang terbaik. Bagi yang pernah disakitin, mereka yang bersalah udah instrospeksi diri berulang-ulang kali kok, jadi ga usah di bully dan dihakimi lagi, penghakiman dari Allah sudah sangat menyakitkan dan mampu mencambuk kami menjadi lebih dewasa dan lebih baik. Tapi kalau tetap masih mau menyimpan dendam dan menghakimi orang ya silakan. Itu hak Anda. Cuma ya saya ngingetin aja, hati-hati lho… perbuatan ga enak sekecil apapun pasti ada balasannya. Cuma ngingetin untuk ga pongah karena merasa ga pernah berdosa sama orang lain. Daripada sibuk ngehakimi orang mending coba introspeksi diri juga supaya kita sama-sama bisa menjadi orang yang lebih bijak kedepannya.

image

Jangan Sombong Hanya Karena Merasa Benar dan Tidak Pernah Melakukan Kesalahan. Hati-Hati Ketika Anda Sibuk Menghakimi Orang Ternyata Orang yang Anda Hakimi Sudah Melangkah Jauh di Depan Anda 

Salam manis,

Dari cewek pesimis yang selalu berusaha optimis dalam menyikapi kehidupan.

Iklan

One thought on “Jahat VS Baik

  1. anadzat berkata:

    Kesemua yang berlaku pada sesaorang adalah hasil dari pikiran sendiri. Jika sesaorang bertindak dengan pikiran buruk sangka atau pikiran jahat, kesakitan menyerapi nya..!!! Begitu jua seandainya seseorang bertindak dengan pikiran baik sangka, kesehatan mendampingi nya, seperti bayang bayang yang tidak akan meninggalkan nya..!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s