Married. It’s not a SIMPLE THING at all.

image

image

image

image

image

image

Setelah menikah pasti bahagia? SALAH. Setelah menikah Anda akan tersadar bahwa mewujudkan pernikahan bahagia itu adalah hasil kerja keras bersama sama dari kedua partner yang sudah berjanji untuk selalu saling membahagiakan satu sama lain SELAMANYA

Menikah itu bagaikan mengisi kotak yang kosong, bukannya seperti anggapan banyak orang kalo nikah itu kayak dapet kotak berisi hadiah, dimana asal udah nikah pasti bahagia, pasti bakal tentram, pasti berkecukupan. kotaknya udah tersedia, tergantung yang punya mau diisi sampah apa berlian, mau diisi kebahagiaan apa kesedihan dan yang punya ya kalian berdua, suami dan istri, jadi kalau mau pernikahan bahagia, ya bekerjasamalah untuk membuatnya jadi pernikahan impian

Menikah itu sama dengan perjuangan lain, seperti meniti karir dll, bedanya semua dilakukan berdua, jadi hanya tim yang solidlah yang akan berhasil

Menikah. Semua wanita pasti sangat mendambakan ingin dilamar dan segera menikah. Ya, siapa sih yang tidak ingin membina keluarga dengan seorang suami impian yang ganteng, mapan, baik hati, penyayang keluarga, dan sederet syarat lain yang mengikuti?

Semua ingin menikah. Karena apa? Jika ditanya karena apa banyak jawaban standar yang bisa kita dapatkan, entah karena ingin membina keluarga, ingin menunaikan kewajiban agama, ingin terlepas dari beban ekonomi dengan mengharap nafkah dari suami, dan lain sebagainya. Tapi bisa kita tarik sebuah kesimpulan, bahwa keinginan menikah timbul dari latar belakang manusia yang menginginkan pencapaian dan kelengkapan dalam hidupnya. Ya, pada dasarnya setiap manusia punya target, tujuan hidup dan idealisme berbeda. Mereka menginginkan sesuatu dari pernikahan. Jika tercapai mereka akan bahagia, dan jika tidak tercapai… ada yang bersedih, ada yang berontak dan ada yang bisa menerima dengan lapang dada.

Itulah kenyataan hidup. Boleh berharap dan berikhtiar sekuat tenaga, tapi jika tidak sesuai kenyataan harus bisa menerima dengan lapang dada. Walau sulit. Dan itulah yang masih aku pelajari hingga saat ini.

Aku jadi teringat, betapa keras upayaku untuk mencapai semua target hidup yang sudah kudaftarkan dengan rapi di rencana tahunan. Ambisius? Ya, bisa dibilang aku adalah seorang yang tidak mudah puas dengan pencapaian sendiri. Aku selalu ingin ini dan itu dan selalu merencanakan masak-masak jauuuuuh hari sebelumnya untuk bisa mencapai hasil yang diinginkan. Tapi jeleknya, jika ada yang tidak sesuai rencana, aku memberontak dan kesal dan tidak bisa berpikir jernih.

Sering aku meluangkan waktu untuk merencanakan ini dan itu tapi ketika kenyataan berbelok aku sulit beradaptasi dengan baik, dan itu mudah membuatku panik dan meradang.

Dan sifat jelek itu muncul ketika diriku harus berhadapan dengan sebuah event penting dalam hidup seorang wanita. PERNIKAHAN. Semua perencanaan mulai dari yang besar hingga yang kecil-kecil cukup membuat stress!!! Kadang kupikir betapa mudahnya pernikahan di zaman nabi dulu yang tak perlu resepsi dan proses adat yang sedemikian panjang. Sampai aku berpikir mau mengadakan upacara pernikahannya saja sesulit ini, bagaimana ketika sudah berumah tangga dengan berbagai cobaan yang pasti menghampiri dan tidak semuanya mudah.

Proses mempersiapkan pernikahan ini betul-betul membuat aku merenung, segala prosesnya tidak bisa dilakukan sembarangan dan sembrono, pantaslah jika orangtua ketar-ketir jika anaknya berpacaran dengan orang yang mereka tidak restui. Sudah dibesarkan dengan susah payah, mereka tidak mau anak mereka tak bahagia dengan pilihan anaknya yang mungkin dipilih bukan berdasar pertimbangan matang tapi hanya berdasar cinta tanpa melihat realita. Hmm.. dari sini pun aku jadi banyak memahami sudut pandang orangtuaku sendiri yang dulunya sering bertentangan dengan idealisme mudaku yang masih mentah. Menikah, membina keluarga, membesarkan anak dan merelakannya pada seseorang yang bisa kita percayai adalah tugas yang sangat sangat sangat sulit. Sehingga aku memahami betapa besar pengorbanan orangtua kepada anaknya untuk mendidik dan membesarkan mereka agar bisa selamat di dunia maupun di akhirat. Belum lagi doa yang tidak putus-putus dari mulut mereka.

Lalu mulailah terpikir tanggung jawab setelah menikah, bagaimana jika nanti sudah memiliki anak? Pendidikan seperti apa yang terbaik untuk mereka? Bagaimana menciptakan lingkungan rumah tangga yang selalu harmonis? Tanpa perseteruan dan bahkan nauzubillahminzalik perselingkuhan dan perpisahan. Karena sejatinya tujuan menikah bukanlah untuk berselingkuh. Janji yang sudah diucapkan pada Allah untuk saling menjaga itu bukan sembarang janji yang boleh dilanggar seenaknya. Untuk apa menikah jika janji dan  sumpah yang sudah diucapkan di depan Allah hanya untuk dilanggar. Banyak konsekuensi dosa yang harus ditanggung bagi mereka yang tergoda untuk merusak rumah tangga sendiri. Hati-hatilah, jangan pernah menganggap remeh arti sebuah pernikahan.

Dari sebuah pernikahan terlahir anak-anak yang nantinya bisa menjadi masa depan yang baik atau yang buruk. Tanggung jawabnya besar, karena dosa anak akan menjadi dosa kita sebagai orang tua. Oleh karena itu jangan anggap pernikahan sebuah penyenang dan hura-hura belaka dimana setelah pesta sehari akan ada BERENTET TANGGUNG JAWAB yang harus dipikirkan untuk menciptakan keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Dan ini ibadah seumur hidup yang musti dipertanggungjawabkan juga di akhirat.

Jadi, Married bukanlah sebuah pesta resepsi hura-hura dimana ujungnya akan selalu happy ending seperti cinderella. Jadi sebaiknya sebelum menikah lakukan persiapan untuk melatih karakter supaya siap untuk menjadi suami/istri yang tangguh kedepannya untuk melindungi keluarga yang sudah dipersiapkan dan dibina dengan susah payah. Ingat biaya menikah yang tidak sedikit. Ingat anak. Ingat orangtua yang sudah mempercayakan kamu untuk menikah dan mengharap kamu berbahagia selamanya. Ingat konsekuensi berat yang harus dihadapi jika sampai terjadi apa – apa dengan keluargamu.

Benar kata Mario Teguh, lebih baik jomblo daripada sibuk pacaran sana-sini tapi karakter diri tidak ada perkembangan ke arah yang lebih baik. Jadi tidak perlu bergalau ria bagi yang belum dapat jodoh karena itu mungkin jawaban dari Allah bahwa masih banyak yang harus kamu pelajari sebelum bisa melangkah ke jenjang pernikahan, jenjang kehidupan dengan tanggung jawab yang lebih besar dan berat. Jadi, sambil menikmati waktu jomblo, persiapkan diri menjadi seorang jodoh idaman yang suatu saat nanti bisa membawa keluargamu menjadi keluarga bahagia. Hmm…

Jadi… sudah siap menikah belum? 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s